Senin, 17 Mei 2010

HISTOLOGI IKAN BENTER


I  PENDAHULUAN

1.1      Latar Belakang
Sungai adalah perairan mengalir secara terus-menerus pada arah tertentu, berasal dari tanah, air hujan dan air permukaan yang akhirnya bermuara ke laut, sungai atau perairan terbuka yang luas. Sungai dicirikan oleh arus yang searah dan relatif kencang, dengan kecepatan berkisar antara 0,1 sampai 1,0 m/detik, serta sangat dipengaruhi oleh waktu, iklim dan pola drainase (Soemarwoto, 1980).
Sungai Citanduy berada di Propinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada posisi 1080 04’ sampai dengan 1090 30’ BT dan 70 03’ sampai dengan 70 52’ LS.  Sungai Citanduy memiliki panjang  170 km, lebar 20 m dan kedalaman 15 m.  Hulu Sungai Citanduy terletak di Gunung Cakrabuana yang memiliki ketinggian 1721 m dan mengalir ke daerah hilir  melalui kabupaten  Tasikmalaya, Ciamis, dan Banjar (Jawa Barat) serta bermuara di Segara Anakan   Cilacap (Jawa Tengah). Aliran sungai Citanduy mempunyai luas 350.000 Ha, 57% dari luas tersebut merupakan lahan pertanian, sedangkan 33% berupa hutan dan perkebunan. Topografi dari wilayah sungai Citanduy yang merupakan daerah yang rata sekitar 30%, daerah bukit dan bergelombang sekitar 50% dan sisanya sekitar 20% mempunyai karakteristik berupa tebing atau lereng dengan tekstur tanah yang mudah tererosi (DPU, 2006).
Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan, ikan benter banyak ditemukan di Sungai Citanduy, namun dari tahun ke tahun pada akhirnya populasi ikan benter berkurang baik akibat over fishing atau karena penangkapan liar. Selain itu, penurunan kualitas perairan sebagai akibat dari faktor lingkungan seperti erosi tanah, pemukiman dan industri menyebabkan tekanan psikologis bagi ikan benter yang ada di perairan tersebut.  Ikan benter (Puntius binotatus) merupakan ikan dari jenis familia Cyprinidae, ikan ini banyak ditemukan pada perairan yang mengalir yang tidak terlalu dalam dan hidupnya memerlukan kondisi kualitas air yang mendukung. Ikan benter bersifat benthopelagic yang hidup antara bagian tengah hingga dasar perairan dan memakan antara zooplankton, larva, serangga dan tumbuhan air, sehingga ikan ini tergolong omnivora (Sugita, 2005).
 Usaha penangkapan ikan benter yang dilakukan masyarakat tanpa memperhatikan kelestariannya, bila dibiarkan maka kemungkinan besar populasi ikan tersebut akan menurun, dan bisa menyebabkan kepunahan. Oleh sebab itu diperlukan upaya perlindungan. Salah satu upaya perlindungan untuk mempertahankan keberadaan ikan benter di alam adalah dengan melakukan usaha konservasi. Usaha konservasi tersebut diharapkan dapat memberikan informasi mengenai aspek biologi ikan, khususnya mengenai reproduksi ikan.
Informasi mengenai reproduksi ikan benter secara lengkap khususnya di Sungai Citanduy sampai saat ini belum ada. Berdasarkan alasan tersebut di atas, maka perlu penelitian tentang aspek biologi reproduksi ikan benter yang tertangkap di Sungai Citanduy yang meliputi faktor kondisi, rasio kelamin, tingkat perkembangan gonad, indeks gonado somatik, fekunditas, dan diameter telur guna mendukung usaha pelestarian yang berkesinambungan.
Kehidupan ikan di perairan tidak terlepas dari kualitas fisika dan kimia air pada habitat ikan tersebut (Odum, 1971). Oleh karena itu sebagai parameter pendukung dalam penelitian reproduksi ikan benter ini perlu dilakukan pengukuran faktor fisika dan kimia air di lokasi penelitian yang berhubungan dengan aktivitas reproduksi ikan.
1.2      Perumusan masalah
Salah satu upaya pelestarian untuk mempertahankan keberadaan ikan benter di perairan umum khususnya sungai Citanduy adalah dengan melakukan usaha konservasi. Usaha konservasi ikan benter belum dilakukan karena masih terbatasnya informasi Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 
1. Bagaimanakah faktor kondisi dan rasio kelamin ikan benter yang  tertangkap di Sungai Citanduy Jawa Barat?
2. Bagaimanakah tingkat perkembangan gonad, indeks gonado somatik,  fekunditas dan diameter telur ikan benter yang tertangkap di Sungai Citanduy Jawa Barat?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
Aspek biologi reproduksi ikan Benter yang meliputi rasio kelamin, faktor kondisi, perkembangan gonad jantan dan betina, IGS, fekunditas, dan diameter telur ikan Benter yang tertangkap di sungai Citanduy.


1.4 Manfaat
Penelitian tentang ikan benter diharapkan dapat melengkapi informasi mengenai aspek reproduksi ikan benter sehingga dapat bermanfaat dalam upaya pengembangan konservasi ikan benter di sekitar Sungai Citanduy Jawa Barat.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.      Biologi Ikan Benter

2.1.1.   Klasifikasi dan Morfologi
Ikan Benter diklasifikasikan menurut Saanin (1984) sebagai berikut :
Phylum                      : Chordata
Subphylum               : Vertebrata
Classis                        : Pisces
Subclass                     : Teleostei
Ordo                           : Ostariophysi
Subordo                     : Cyprinoidea
Familia                       : Cyprinidae
Genus                         : Puntius
Spesies                       : Puntius binotatus
Ikan Benter memiliki ciri-ciri bibir bawah tidak terpisah dari rahang bawah yang tidak berkulit tebal atau terpisah dari rahang bawah oleh turisan pada permukaan saja; hidung tidak berbintil-bintil keras. Tinggi batang ekor sama dengan panjangnya dan setengah sampai sepertiga kepala; kepala 3,3 sampai 4,5 kali lebar mata (Saanin, 1984). Ikan Benter mempunyai 2-4 sungut, gurat sisi sempurna, satu jari-jari  sirip terakhir punggung mengeras dan bergerigi dibagian belakangnya; 4,5 sisik antara gurat sisi dan awal sirip punggung. Satu bintik bulat besar pada bagian anterior dari pangkal sirip punggung dan sebuah lagi di tengah batang ekor. Pada juvenil dan dewasa ada 2-4 titik-titik memanjang (Kottelat  et al., 1993).
Ikan benter adalah salah satu  ikan yang tersebar luas di sebelah barat garis wallacea, yang tergolong dalam ikan perairan tawar tropis yaitu danau dan sungai. Ikan ini mendominasi sungai-sungai kecil berbatu yang berarus deras di bagian hulu, pertengahan sampai hilir yang habitatnya pinggirannya yang merupakan sawah dan perkebunan (Hartoto dan  Endang, 1996; Rachmatika, 2004). Menurut pendapat Kavanagh (2002), ikan benter dapat hidup pada ketinggian tempat kurang lebih 300 m. Ukuran kisaran panjang badan ikan benter kurang lebih 25 - 88,6 mm. Ikan benter hidup pada aliran sungai yang jernih dan deras, bersubsrat pasir dan lempung, disamping itu juga dapat hidup pada air yang sangat keruh.
 

Gambar 1. foto ikan Benter (Puntius binotatus)
 www.fishbase.org.photos/picture summary.cfm?id:5180& what:species 
2.1.2. Reproduksi
Reproduksi adalah kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya atau kelompoknya (Fujaya, 2004). Menurut Effendi (1997), pada dasarnya keterangan aspek biologi reproduksi diperlukan untuk penelaahan kapan ikan akan memijah, frekuensi pemijahan, musim pemijahan dan ukuran saat pertama kali ikan akan mencapai kematangan gonad. Beberapa aspek biologi reproduksi seperti faktor kondisi, rasio kelamin, tingkat perkembangan gonad, indeks kematangan gonad, fekunditas dan diameter telur penting diketahui untuk kepentingan pengelolaan sumberdaya hayati perikanan.
 Faktor kondisi (K) menunjukkan keadaan ikan dilihat dari segi kapasitas fisik untuk pertahanan hidup dan reproduksi. Faktor kondisi dapat digunakan sebagai indikator kondisi pertumbuhan ikan di perairan. Perhitungan faktor kondisi didasarkan pada panjang dan berat ikan. Nilai faktor kondisi suatu jenis ikan di pengaruhi oleh umur, makanan, jenis kelamin dan tingkat kematngan gonad (Effendie, 1997).
Rasio kelamin merupakan perbandingan jumlah ikan betina dibagi jumlah ikan jantan. Rasio kelamin sangat berguna untuk menentukan berbagai aktivitas reproduksi karena perubahan besar dalam rasio kelamin terjadi pada saat pemijahan (Hunter and Goldberg,  1980).
Tingkat kematangan gonad adalah tahap perkembangan gonad tertentu sebelum dan sesudah ikan memijah. Di dalam proses reproduksi, sebelum terjadi pemijahan, sebagian besar hasil metabolisme tertuju untuk perkembangan gonad. Berat gonad akan mencapai maksimal saat ikan memijah, kemudian akan menurun secara cepat dengan berlangsungnya musim pemijahan hingga selesai (Effendie, 1997). Faktor yang mempengaruhi saat pertama kali ikan mencapai matang gonad ada dua yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam antara lain perbedaan spesies, umur, dan ukuran serta sifat-sifat fisiologi dari ikan tersebut seperti kemampuan adaptasi terhadap lingkungan. Sedangkan fakor luar adalah makanan, suhu, dan arus (Lagler, et al., 1977 dalam Sofiah ,2003).
Perubahan yang terjadi dalam gonad atau tahap perkembangan tingkat kematangan gonad secara kuantitatif dapat dinyatakan dengan suatu indeks yang dinamakan indeks kematangan gonad (IKG). Indek kematangan gonad dinamakan juga “Gonado Somatic Index” yaitu suatu nilai yang menyatakan prosentase dari perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk gonadnya dikalikan 100%. Gonad akan semakin bertambah berat sehingga ukuran telurnya pun akan bertambah besar pula. Sejalan dengan perkembangan gonad, nilai indeks akan semakin bertambah besar dan nilai tersebut akan mencapai batas kisaran maksimal pada saat akan terjadi pemijahan, kemudian akan menurun dengan cepat selama pemijahan sedang berlangsung sampai selesai. Pada ikan betina IKG lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan (Effendie, 1997).
Fekunditas dari suatu jenis ikan sangat penting untuk diketahui karena dengan fekunditas dapat memberikan informasi kemampuan  ikan dalam menghasilkan telur dalam suatu pemijahan. Fekunditas adalah jumlah telur masak sebelum dikeluarkan pada waktu ikan akan memijah (Effendie, 1992). Fekunditas dapat dibagi menjadi 3 yaitu fekunditas individu/mutlak, fekunditas nisbi dan fekunditas total. Nikolsky (1963) dalam (Effendie, 1992) menyatakan jumlah telur masak yang terdapat dalam ovarium ikan merupakan fekunditas individu atau fekunditas mutlak, sedangkan fekunditas nisbi yaitu jumlah telur per satuan bobot atau panjang ikan. Fekunditas total menurut Royce (1972)  dalam Effendie (1979) adalah jumlah telur yang dihasilkan ikan selama hidupnya.
Fekunditas ikan berhubungan erat dengan lingkungannya, dimana spesies ikan akan berubah fekunditasnya jika keadaan lingkungannya berubah, perubahan fekunditas ini diatur oleh sediaan makanan. Pada umumnya individu yang cepat pertumbuhannya, fekunditasnya lebih tinggi dibanding dengan yang lebih lambat pertumbuhannya pada ukuran yang sama (Effendie, 1997).
Perkembangan diameter telur semakin meningkat dengan meningkatnya gonad terutama saat mendekati waktu pemijahan Johnson dalam Effendie (1992). Diameter telur pada gonad yang sudah matang berguna untuk menduga frekuensi pemijahan yaitu dengan melihat modus penyebarannya, sedangkan dari frekuensi ukuran telur ikan dapat diduga lama pemijahannya (Hoar, 1957 dalam Sofiah, 2003). Takata dan Tester (1980) dalam Effendie (1997) membagi tingkatan perkembangan telur menjadi 4 tipe yaitu:
a.      Tipe A : Telur primitif belum berkembang, tertanam dalam jaringan ovarium, garis tengahnya berkisar antara 0,01-0,10 mm dengan garis tengah yang terbanyak adalah 0,05 sebagai puncak distribusinya.
b.      Tipe B : Telur yang berkembang sebagian atau seluruhnya tertanam di dalam jaringan ovarium. Ukuranya berkisar dari 0,1-0,5 mm, seluruhnya berisi kuning telur yang belum jelas. 
c.       Tipe C : Telur masak atau hamper masak, terletak bebas di dalam luman ovarium. Garis tengahnya sekitar 0,5-0,9 mm dan telur yang terbanyak bergaris tengah 0,7-0,8 mm
d.     Tipe D : Telur sisa dalam berbagai tingkat kemunduran terdapat bebas di dalam lumen ovarium. Ukurannya hampir sama dengan telur masak tetapi isinya seperti susu atau tidak ada ruang di antara masa kuning telur dengan dinding telur. 
2.2. Sungai
            Sungai merupakan perairan yang airnya mengalir secara terus menerus pada arah tertentu, berasal dari air tanah, air hujan dan air permukaan yang akhirnya bermuara ke laut (Soemarwoto, 1980). Daerah tersebut meliputi sebagai berikut :
a.      Hulu sungai, terletak di daerah yang tinggi, mengalir melalui bagian yang curam, dangkal dan berbatu dengan arus dan goncangan yang volume air yang kecil, kandungan O2 terlarut tinggi, temperatur yang rendah dan warna air yang jernih.
b.      Hilir sungai, terletak di dataran yang rendah dengan arus air yang tidak begitu kuat dan volume air yang lebih besar, kecepatan fotosintesis yang lebih tinggi dan banyak bertumpuk pupuk organik.
c.       Muara sungai, letaknya hampir mencapai laut atau pertemuan dengan sungai lain, arus lain sangat lambat dengan volume lebih basar, banyak mengandung bahan terlarut dan lumpur dari hilir hingga membentuk delta dan warna air sangat keruh.
Sungai Citanduy mengalir melalui kondisi lingkungan yang berbeda. Aliran Sungai Citanduy dibagi menjadi 3 bagian yaitu bagian hulu, hilir dan muara. Bagian hulu merupakan daerah sumber erosi atau daerah pengikisan karena alur  sungainya melalui daerah pegunungan, perbukitan, sehingga apabila turun hujan sebagian air akan meresap dan sebagian lagi akan mengalir membawa partikel tanah. Bagian hilir Sungai memiliki kemiringan dasar sungai yang landai, bentukan fisik tersebut mengakibatkan kecepatan aliran  sungai lambat  dan memungkinkan terjadinya pengendapan. Bagian muara merupakan daerah pengendapan partikel terlarut yang terbawa dari bagian hulu dan hilir. Bagian hulu, hilir dan muara Sungai Citanduy mendapat masukan air dari beberapa anakan sungai seperti Sungai Cikidang, Ciloseh, Cimuntur, Cijolang, Cikawung, Ciseel dan Sungai Cigunjeng (DPU, 2006).
2.3. Kualitas Fisika dan Kimia  Air
Penyebaran jenis dan populasi hewan akuatik ditentukan oleh kualitas lingkungan yang ada seperti fisika, kimia dan biologi perairan (Odum, 1971). Menurut Whitton (1975) dalam Khotimiyati (2000), kehidupan ikan di suatu perairan dipengaruhi temperatur, kecepatan arus, kekeruhan,  pH, dan konsentrasi oksigen terlarut, CO2 bebas, dan BOD.
Proses pertumbuhan dan reproduksi ikan  dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan diantaranya temperatur. Barus (2002) menyatakan bahwa kenaikan temperatur akan meningkatkan laju metabolisme. Akibat meningkatnya laju metabolisme akan menyebabkan konsumsi oksigen meningkat, sementara dilain fihak dengan naiknya temperatur akan menyebabkan kelarutan oksigen dalam air menjadi berkurang. Temperatur air yang diperlukan dalam proses biologi seperti pematangan gonad, pemijahan dan penetasan telur berkisar antara 25-30°C (Sutisna dan Sutarmanto, 1995).
pH merupakan salah satu faktor kimia yang penting sebagai petunjak baik buruknya kualitas air sebagai lingkungan hidup ikan. Perguncangan pH dapat berakibat buruk terhadap hewan akuatik yang tidak tahan menghadapi perubahab pH yang terlalu besar (Mahida, 1984). Sutisna dan Sutarmanto (1995) menyatakan pH yang optimal untuk proses reproduksi ikan berkisar antara 6,7 sampai 8,2.
Kekeruhan menyebabkan terganggunya sistem osmoregulasi dan daya lihat ikan (Effendi, 2003). Kekeruhan yang terlalu tinggi dapat berpengaruh negatif terhadap kehidupan organisme perairan, antara lain dapat menutupi insang, sehingga mengganggu pernafasan, mempengaruhi kecakapan predator dalam mencari mangsa dan dapat menyebabkan tertutupnya dasar sungai sebagai habitat organisme bentik serta mengurangi masuknya penetrasi cahaya matahari ke dalam sungai (Siregar, et al., 2002). Kekeruhan yang dapat ditolerir bagi kehidupan ikan yaitu < 50 NTU (Wardoyo, 1981).
Oksigen sangat penting untuk kehidupan ikan dan hewan air tawar lainnya. Menurut Wardoyo (1981), oksigen terlarut disuatu perairan sangat penting untuk pernafasan dan merupakan komponen utama dalam metabolisme ikan. Konsentrasi oksigen yang optimal bagi kehidupan ikan adalah 5 ppm, jika konsentrasi oksigen kurang dari 3 ppm akan membahayakan kehidupan larva  ikan (Sutisna dan Sutarmanto, 1995).
Karbondioksida  (CO2)  bebas dalam perairan merupakan bahan utama dalam proses fotosintesis, tetapi jika dalam konsentrasi yang tinggi dapat bersifat menghambat penyerapan oksigen oleh darah di dalam tubuh ikan (Triyatmo, 1997). Karbondioksida bebas merupakan faktor pembatas bagi kehidupan ikan. Karbondioksida bebas bila  mencapai 20 ppm merupakan racun bagi ikan, sedang pada angka 12 ppm ikan menjadi stres (Wardoyo, 1981). 
Biological Oxygen Demand (BOD) merupakan gambaran secara tidak langsung dari kadar bahan organik yaitu jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba aerob untuk mengoksidasi bahan organik menjadi karbondioksida (Effendi, 2003). Nilai BOD akan mempengaruhi kehidupan biota akuatik yang ada di perairan, karena perairan yang memiliki BOD tinggi akan menyebabkan menurunnya O2 terlarut di dalam air.


III. MATERI DAN METODE

3.1. Materi Penelitian
3.1.1. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan benter (Puntius binotatus) yang tertangkap di Sungai Citanduy; larutan gilson (asam asetat, chloroform dan etanol dengan perbandingan 1: 1: 1), Bouin Hollande (akuades 100 mL, cupri acetat 2,5 g, formalin 10 mL, asam asetat 1 mL dan asam pikrit 4 g), analisis kekeruhan (alkohol 75%, alkohol absolut, sampel air, larutan standar 0,5 dan 5,0 NTU), analisis O2 dan BOD (larutan MnSO4 1 mL, KOH-KI 1 mL, H2SO4 pekat 1 mL, indikator amilum 5%, Na2S2O3 0,025 N), analisis CO2 (larutan indikator phenolphthalein dan  Na2CO3 0,01 N).
3.1.2. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Jala tebar (mesh size 1x1 cm2 dan diameter 6m) dan Jaring bentang (panjang 10 m, lebar 3 m dan mesh size 1cm2), Mikroskop “Olympus optical CH20B1MF200”, objek glass, cover glass, mikrometer okuler  model UYCP-12 (+0,01mm), termometer celcius (10C), kertas indikator pH universal, stopwatch, millimeter blok, timbangan analitik model MB2610 (+ 0,1 g), ice box 24 L,   botol sampel, gunting, pisau bedah, pinset, cawan petri, botol Winkler (250 mL), gelas ukur (100 mL dan 500 mL), labu erlenmeyer (250 mL) dan pipet tetes.


3.2.  Metode Penelitian
3.2.1.   Variabel dan Parameter
Variabel yang diamati adalah aspek reproduksi ikan benter yang meliputi rasio kelamin, tingkat perkembangan gonad, indeks gonado somatik, fekunditas, diameter telur dan faktor kondisi. Parameter utama adalah bobot dan panjang tubuh ikan, bobot gonad, jumlah ikan jantan dan betina
Parameter pendukung dalam penelitian adalah kualitas air yang meliputi : temperatur air, pH, oksigen terlarut, CO2 bebas, kecepatan arus, kekeruhan dan BOD yang diambil di lokasi pengambilan sampel.
3.2.2.   Teknik Pengambilan Sampel
Penelitian dilakukan dengan metode survei dan pengambilan sampel ikan secara  group random sampling, dilakukan pada tiga stasiun, tiga kali ulangan dengan interval waktu 1 minggu.
Tabel 1. Lokasi pengambilan sampel
Stasiun
Lokasi/Ordinat (GPS)
Keterangan
I
Desa Margasari Kec. Rajapolah Tasikmalaya
LS 70 14’,57’’
BT 1080 09’,18’’
Merupakan daerah hulu , kondisi lingkungan didominasi area pertanian
II
Desa Mulya Sari Kec. Pataruman Banjar
LS 70 23’,43’’
BT 1080 33’,27’’
Merupakan daerah hilir, kondisi lingkungan didominasi area pemukiman dan industri
III
Desa Tunggilis Kec. Kalipucang Ciamis
LS 70 40’,18’’
BT 1080 46’,17’’
Merupakan daerah muara, kondisi lingkungan didominasi area pertanian
 
3.2.3.   Pengambilan Sampel Ikan
Pengambilan sampel ikan menggunakan jala tebar (mise size 1x1 cm dan diameter 6 m) dilakukan dua kali tebar, dan dengan jaring bentang (panjang 10 m, lebar 3 m dan mesh size 1x1 cm2) ditarik berlawanan dengan arah arus sungai dilakukan satu kali penangkapan. Jumlah sampel yang diambil untuk setiap kali sampling di setiap stasiun adalah 10 ekor, namun apabila hasil tangkapan tidak mencukupi maka seluruhnya diambil sebagai sampel.
3.2.4. Penanganan Sampel Organ
Sampel ikan yang tertangkap ditimbang dan diukur panjang bakunya  kemudian dibedah dan diambil gonadnya, lalu gonad ditimbang. Kemudian gonad dimasukkan ke dalam botol sampel. Botol-botol sampel dimasukkan ke dalam ice box yang diberi es batu untuk diamati di Laboratorium. Sebagian dari gonad betina dan gonad jantan direndam dengan larutan bouin hollande selama 3 x 24 jam, kemudian dicuci 2 kali dengan alkohol 75%. Untuk pengukuran fekunditas dan diameter telur, sebagian lagi dari gonad betina disimpan dalam larutan gilson, kemudian dimasukkan ke dalam botol film yang berlabel, dikocok kuat dan berulang-ulang secara periodik setiap 24 jam sekali sampai semua telur terpisah dengan telur yang lainnya. Selanjutnya disimpan kembali dalam alkohol absolut sampai dilakukan pembuatan preparat histologi.




3.2.5. Pengumpulan Data
3.2.5.1. Panjang Badan
Panjang badan ikan yang diukur adalah panjang baku (jarak antara ujung moncong sampai dengan pangkal sirip ekor). Pengukuran panjang badan ikan dilakukan dengan menggunakan  milimeter blok.
3.2.5.2. Bobot Badan
Bobot ikan ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik Kemudian dibedah untuk diamati organ reproduksi ikan sampel secara anatomi.
3.2.5.3. Rasio kelamin
Rasio kelamin dihitung dengan menggunakan rumus Hunter dan Goldberg (1980) sebagai berik
3.2.5.4. Faktor kondisi
Faktor kondisi dihitung dengan menggunakan rumus menurut Effendie (1997) yaitu:
Keterangan :      K     = Faktor kondisi total
                            W    = Bobot Badan(g)
  L      = Panjang Badan (cm)

3.2.5.5. Tingkat Perkembangan Gonad

Tingkat perkembangan gonad dilakukan dengan menganalisis preparat histologi gonad dibawah mikroskop. Penentuan perkembangan gonad jantan berpedoman pada klasifikasi yang disusun oleh (Kaya dan Hesler, 1972 dalam Effendie, 1997), sedangkan untuk penentuan perkembangan gonad betina berpedoman pada klasifikasi yang disusun oleh (Rinchard dan Kestemont, 1996 dalam Sulistyo et al., 1998).
Tabel 2. Tingkat perkembangan Testis ikan Green Sunfish menurut Kaya dan Hasler (1972) dalam Effendie (1997)

No.
Tingkatan testis
Keterangan
1.
Testis regresi
Dinding gonad dilapisi oleh spermatogonia awal dan sekunder. Sperma sisa masih terlihat
2.
Perkembangan spermatogonia
Sama dengan tingkat 1 hanya proporsi spermatogonia sekunder bertambah.
3.
Awal aktif spermatogenesis
Cyste spermatocyt timbul kemudian semakin bertambah. Cyste spermatid dan spermatozoa juga mulai keluar.
4.
Aktif spermatogenesis
Semua tingkat spermatogenesis ada dalam jumlah yang banyak. Spermatozoa bebas  mulai terlihat dalam rongga seminiferous.
5.
Testis masak
Lumen penuh dengan sper,atozoa. Pada dinding lobule penuh dengan cyste bermacam-macam tingkat
6.
Testis regresi
Rongga seminifereus masih berisi spermatozoa. Ukuran testis mengkerut karena sperma dikeluarkan.
 
Tabel 3. Tingkat perkembangan Ovarium menurut Rinchard dan Kestemont (1996) dalam Sulistyo et al.  (1998)
Tingkat
Ovarium
Tingkat Oosit
Keterangan
1.      Previtellogenik
Oosit Previtellogenik
Oosit dengan gelembung bebas dari sitoplasma
2.      Vitellogenesis
Oosit dalam endogen vitellogenesis
Muncul gelembung yolk yang menempati 2 atau 3 cicin didalam sitoplasma. 
3.      Penyelesaian vitellogenesis endogen
Penyelesaian Oosit  vitellogenesis endogen
Oosit dipenuhi gelembung yolk, lapisan folikuler seluler berdiferensiasi.
4.      Vitellogenesis eksogen
Oosit Vitellogenesis eksogen
Menghimpun kuning telur seperti bola kecil dan berada diatas luar sitoplasma.
5.      Pematangan akhir
Oosit dalam pematangan akhir
Terlihatnya mikrofil dan migrasi gelembung germinal kemikrofil
6.      Pasca peneluran
Oosit fase peneluran
Sebelum dan sesudah ovulasi folikel hipertropi, substansi yolk mengalami degradasi.

3.2.5.6. Indeks Gonadosomatik (IGS)
Indeks gonadosomatik dihitung berdasarkan rumus menurut Effendie (1979):






Tidak ada komentar: